Konferensi ASEACC 2018 Hari Pertama



Yogyakarta, Film Medan - ASEACC (Association of Southeast Asian Cinemas Conference) kembali diadakan untuk yang ke sepuluh kalinya jatuh pada tahun 2018 diadakan di Pascasarjana ISI Yogyakarta pada tanggal 23 hingga 26 Juli 2018.

Asosiasi Konferensi Sinema Asia Tenggara (ASEAC) dimulai pada Mei 2004 dengan pertemuan perdana yang diselenggarakan dan diadakan oleh Asia Research Institute, National University of Singapore. Panitia pelaksananya terdiri dari akademisi muda dan praktisi film dibentuk tidak lama setelah 2004 dan sejak saat itu, diputuskan agar kegiatan ini diselenggarakan dan dijadikan menjadi event reguler yang akan berotasi di seluruh wilayah - sejauh ini Singapura 2004, Bangkok 2005, Kuala Lumpur 2006, Jakarta 2007, Manila 2008, Ho Chi Minh 2010, Singapura 2012, Salaya 2014, Kuala Lumpur 2016, dan Yogyakarta 2018.

Tujuan konferensi ASEACC adalah untuk meningkatkan tingkat discourse film di wilayah tersebut serta untuk mempromosikan kesadaran global tentang Sinema Asia Tenggara sebagai bidang studi yang beragam dalam studi film dan bidang kajian lainnya. Forum ini berusaha untuk menampilkan dan menciptakan wacana akademis dan sosial di antara para sarjana, kritikus film, penggemar dan aktivis media tentang beberapa sinema baru dari daerah, menyoroti film sebagai wahana ekspresi artistik, refleksi sosial-budaya, sebagai alat ideologis dan pendidikan serta untuk menyediakan forum bagi jaringan internasional di antara para peserta. 

Ciri unik dari konferensi ASEACC ini adalah kajian lintas dispilin dan kombinasi teori dan praktek: Tempat di mana para sarjana film, antropolog dan sosiolog dan aktivis budaya berbaur dengan pembuat film, kritikus, programmer, arsiparis, dan praktisi film lainnya. Pertemuan biasanya mencakup panel akademik yang berfokus pada isu-isu kontemporer yang dihadapi pembuat film, sejarah, genre, gender dan identitas lainnya, dll., serta dialog dengan praktisi film.

Untuk tahun ini tema yang diusung adalah Politik dari Kepercayaan, Spiritualitas, dan Religius dalam Sinema Asia Tenggara.

Suasana pembukaan konferensi di gedung Pascasarjana ISI Yogyakarta (Photo by: Manu Gintings)

Untuk hari pertama yang dilaksanakan setelah sambutan dan pembukaan oleh beberapa pelaksana konferensi ASEACC yang ke 10 di Pascasarjana ISI Yogyakarta diantaranya Wakil Direktur 1 Program Pascasarjana ISI Kurniawan Adi Saputro, Ph.D., Ketua bidang Penelitian dan Pengembangan Badan Perfilman Indonesia Tito Imanda, Ph.D. dan  Perwakilan ASEACC Thomas Barker.

dari kiri: Kurniawan Adi Saputro, Ph.D, Tito Imanda, Ph.D, dan Thomas Barker (Photo by Chris Woodrich)

Panel pertama konferensi ini dipandu oleh Gaik Cheng Khoo dari University of Nottingham Malaysia dengan tema "Representation of Gender" yang disajikan oleh:

Evi Eliyanah (Photo by: Chris Woodrich)

Evi Eliyanah (The Australian National University/ Universitas Negeri Malang) dengan judul Fahri to Chudhori: Reel Muslim New Man in Contemporary Indonesian Cinema;

Alicia Izharuddin (Photo by: Chris Woodrich)

Alicia Izharuddin (University of Malaya) dengan Cinema of Misrecognition: Islam, Gender, and the Terrorsit in Contemporary Indonesia Film;

IGAK Satrya Wibawa (Photo by: Chris Woodrich)

IGAK Satrya Wibawa (Universitas Airlangga/ Curtin University) dengan Seen the Unseen Balinese: Female Gaze in Children Space in Kamila Andini's The Seen and the Unseen; serta

Adrian Alarilla (Photo by: Chris Woodrich)

Adrian Alarilla (University of Washington, Seattle) dengan The Spectacular Body of the Father in Agony and Ecstasy.

Selanjutnya, setelah rehat makan siang, sesi berikutnya dipandu oleh Adam Knee dari LaSalle College of the Arts, SIngapore dengan panel yang disajikan oleh:

Bayu Kristianto (Photo by Chris Woodrich)

Bayu Kristianto (Universitas Indonesia) dengan paper berjudul Romantic Nationhood: A Critique of the Film 5cm through the Lens of Yi-Fu Tuan;

Ary Budiyanto (Photo by: Chris Woodrich)

Latifah and Ary Budiyanto (Kertarajasa Buddhist College and Brawijaya University) dengan Narrating Islam and Adat in Contemporary Makassar Cinema;

Tito R. Quiling Jr. (Photo by: Chris Woodrich)

Tito R. Quiling Jr. (University of Santo Tomas) dengan Distress in the Marshlands: Mapping Landscapes of Fear and Faith in Francis Xavier Pasion’s Bwaya (2014); serta

Katrina Ross Tan (Photo by: Chris Woodrich)

Katrina Ross Tan (University of the Philippines Los BaƱos) dengan Religion in Philippine Contemporary Life: Analysis of Selected Regional Short Films.

Sesi kedua ini kemudian dilanjutkan dengan Film Screening film Sunya (the Talisman) yang digarap oleh Hari Suharyadi di tahun 2017.

Gumuk Pasir Parangkusumo di malam hari (Photo by: Manu Gintings)

Sebagai penutup, para peserta konferensi kemudian bersama-sama mengunjungi Gumuk Pasir Parangkusumo, melihat langsung aktivitas warga di sana dengan ritual pantai yang ada di sana. (MG)

Post a Comment

Previous Post Next Post